Part I

December 25th, 2006 by aninditadaisy

Dia ada disana, di antara garis - garis matahari sore

Keanggunan senja merunduk saat menatap wajahnya

Terkurung selamanya di matanya

Satu iblis datang

Yang tidak memiliki perasaan

Pada dirinya atau pada orang lain

Satu iblis yang telah terbiasa dengan kesendirian dan kebekuan

Satu iblis datang dalam guguran daun dan semilir angin

Dan terdiam saat melihat keindahan cahaya

Dan hatinya tergetar saat langkah cahaya mendekat

Dia datang dalam damai

Tidak mengetahui apa yang telah dilakukannya pada hati sang iblis

Tidak menyadari

Dan tidak akan pernah tahu

Satu iblis yang tidak memiliki hati

Tidak pernah merasakan apapun saat melihat orang lain

Saat sang iblis mendengar langkah cahaya

Yang dia inginkan hanyalah menghangatkan cahaya

Entah timbul dari mana niat itu

Sebuah cahaya tidak perlu diberikan kehangatan,

Sang iblis berkata

Dan sebuah cahaya dapat menghangatkan dirinya sendiri

Dan sebuah cahaya tidak perlu kehangatan yang diberikan oleh seorang iblis

Yang bahkan tidak tahu bagaimana cara menghangatkan dirinya sendiri

Sang iblis hanya bisa tertawa

Menertawakan hal yang tidak mungkin terjadi

Dan tidak perlu terjadi

Cahaya masih menari – nari di hadapannya

Masih dalam seluruh kedamaiannya

Sang iblis hanya menatap cahaya dalam senyumnya

Cahaya, cahaya

Apa yang sebenarnya kamu cari

Senja telah merunduk di hadapanmu

Iblis telah menghangatkan hatinya untuk kehadiranmu

Kedamaian selalu berjalan mengelilingimu

Kenapa kamu masih berpaling

Sang iblis menghela nafasnya

Kepasrahan melepas bebas dari sana dan mulai membangunkan ruang hatinya

Sang iblis melihat hatinya

Apa yang ingin kamu katakan

Apakah saat ini kamu akan berkata, inilah saatnya

Untuk mengakhiri semua kebekuan

Untuk meruntuhkan dinding – dinding tinggi dan kokoh yang selama ini dijaga ketat

Atau akan menertawakan betapa menyedihkannya seorang iblis

Yang telah menaklukkan banyak orang

Yang telah menghempaskan semua yang mendekat

Tapi saat melihat cahaya

Hanya bisa duduk terdiam

Tanpa bisa melakukan apapun

Bahkan tidak mampu menghancurkan sebuah cahaya

Hatinya hanya tersenyum

Hatinya memanggil cahaya

Tapi cahaya tidak mendengar

Hatinya memanggil cahaya lebih keras

Tapi cahaya tidak mendengar

Hatinya berteriak memanggil cahaya

Tapi cahaya tidak mendengar

Hatinya mulai panik

Ia memukul cahaya

Menggigit, mencakar, berteriak di telinganya

Tapi cahaya tetap tidak mendengar

Hatinya mulai menangis

Hatinya menangis di hadapan cahaya

Berharap ia akan terlihat bagi cahaya

Tapi cahaya tetap tidak melihat apapun

Sang iblis hanya tertawa

Dan tetap melihat cahaya yang menari di hadapannya

Dan memanggil hatinya kembali

Apa yang kamu harapkan

Hal ini tidak pernah tercipta untuk kita

Kesendirianlah yang tercipta untuk kita

Sekeras apapun aku berteriak memanggilnya

Dia tidak akan melihat

Jadi apa gunanya

Hatinya hanya bisa menangis dan menatap cahaya

Hatinya mulai mengutuk cahaya karena tidak mendengar

Sang iblis kembali tertawa

Dan dia berkata pada hatinya

Cahaya tidak pernah tercipta untuk iblis

Maka dari itu aku hanya memandangnya dari jauh

Mungkin aku akan tetap tergetar saat mendengar langkahnya

Aku masih ingin memberikannya kehangatan

Aku akan rela jika dia memintaku menjadi cahayanya

Dan membuang sayap ini

Dan aku masih tidak tahu kenapa aku ingin melakukan hal itu

Tapi,

Dia harus melihatku dulu

Dia harus memintaku dulu

Dan sampai saat itu datang

Dinding ini tetap akan ada

Sayap ini akan tetap disini

Kebekuan ini akan tetap ada

Hatinya mendongak dan berkata,

Jika kamu tidak melakukan apapun

Bagaimana cahaya akan datang

Bagaimana cahaya akan mengetahuinya

Semua keinginanmu akan menjadi percuma

Bagaimana bisa kamu mengharapkan cahaya akan datang jika ia tidak mengetahuinya

Sama sekali tidak mengetahui

Dan kebekuanmu akan bertambah

Karena sakit yang kamu rasakan saat menunggunya

Dan bukankah cahaya tidak pernah tercipta untuk iblis

Sang iblis menatap cahaya yang menari – nari di hadapannya

Hanya menatap

Dan masih menatap

Tanpa bisa berkata apapun kepada cahaya

Saat itu

Sedikit demi sedikit

Kebekuannya bertambah

Hatinya mulai merasa sakit

Mulai merasa sakit sekali

Hatinya sakit

Sakit sekali

Sang iblis meletakkan hatinya dihadapan cahaya

Tapi cahaya tidak pernah tahu

Satu iblis pergi dalam guguran daun dan semilir angin

Dan terdiam saat melihat keindahan cahaya

Dan sang iblis berkata pelan kepada cahaya

Teruslah bersinar

Agar aku bisa menemukanmu lagi

Dan terkurung selamanya di matamu

Tapi cahaya tidak pernah mendengar

A Phone Call From A Long Lost Friend

December 25th, 2006 by aninditadaisy

saya suka natal. suasana natal itu cerah meriah (dengan warna merah dan hijau yang rasanya udah jadi trade mark natal) dan semua film di tipi produksi barat, bukan punjabi (yang berarti kualitas pemain dan cerita (paling ngga) ngga mengecewakan dan ngga ngejiplak film korea lalu berlindung di balik alesan terinspirasi atau adaptasi. ha!) natal juga jadi semacam warning sign buat saya kalo dalam jangka waktu lima hari lagi, jatah hidup saya berkurang.

kemaren siang saya dapet telfon dari temen deket sejak smp yang udah lama ngga kontak karena dia sibuk sama kuliah (dan pacarnya). tiba2 dia nelfon saya karena lagi ngga ada kerjaan, saya berasa jadi cadangan gini.. anyway, sebagai teman yang baik tentu saja dia ingat bentar lagi saya ulang tahun.

"si, temen kita yang lainnya aja udah nikah, udah beranak, udah kerja, udah mau lulus, miniml udah punya pacar deh! ini masih jomblo aja! masa ngga berkembang sama sekali? trus ntar ulang tahunnya sendirian? pasti dirayain di rumah lagi! orang lain itu ya si, kalo ulang tahun dirayain di luar, dimanapunlah. ini masih sama orang tua aja" dan sebagai penutup omelan dia, saya diberi waktu lima hari untuk menyeret cowok dari jenis apapun untuk dibawa ke rumah dan dikenalin ke orang tua. seandainya segampang itu.

masalahnya tahun ini saya lagi ngga beruntung di bagian itu. sebagai bukti, si cowok lucu bermata indah (sampe sekarang) ngga nyadar saya ada. satu orang cowok yang menjadi kecengan umat ternyata udah punya pacar, dimana saya paling anti mengganggu rumah tangga orang lain. walaupun di lain pihak asya termasuk penganut setia sekte "selama janur kuning belum berdiri di ujung jalan, dia masih milik umum". dan sekarang ada si tetangga depan yang dari pertama kenalan sama dia sampe detik ini saya kecengin. nah, kalo dia main ke studio saya, yang pertama ditanya itu selalu temen saya.. yang juga cowok. damn. aarrrgghh, ada apa sih dengan dunia persilatan??

empat hari dari sekarang, saya udah bisa memprediksi segimana menyebalkannya pertanyaan yang sama diulang - ulang oleh orang yang berbeda di hari ulang tahun saya. jadi, saat ini saya tegaskan, udah deh, DON’T ASK!!!

masalah dirayain di rumah, emangnya ada apa? masa cuma karena ulang tahun saya mempunyai kewajiban untuk ngebayarin makan2 satu rt di luar. saya bisa bangkrut secara permanen dong. lagian sekarang kan liburan, saya mau ngundang siapa buat makan2 di rumah? undangan kan cuma valid dalam satu hari, hwahaha..

satu lagi, saya ngerayain ulang tahun dengan orang tua. menurut saya, setua apapun anda, sejauh mana anda udah pergi, di mata orang tua anda tetap anak ingusan yang belum lulus balita. cuma bedanya yaa, yang satu merengek - rengek minta mainan, yang satu lagi merengek - rengek minta dikawinin. sisanya sama kok. beneran deh.

selama saya masih dibiayain dan tinggal sama orang tua, might as well give them what they want. kalaupun saya udah check out dari rumah orang tua, bukan berarti secara otomatis saya punya hak (atau kewajiban?) untuk ngerayain ulang tahun di cafe atau marah - marah kalau mereka mulai memperlakukan saya seperti anak kecil. itu sih cuma ada di sinetron hidayah. kalau anda seperti itu, siap - siap aja meninggal dengan wajah yang telah mengalami deformasi dan kuburan yang secara misterius terbelah dua dengan rapi.

well, anyway.. kita liat aja dalam empat hari ke depan apakah tetangga depan secara mendadak mulai nanya - nanya tentang saya dan bukan temen saya yang cowok lagi. tapi tampak ngga mungkin. hmh.. oh well..

untitled sajah

November 22nd, 2006 by aninditadaisy

hari ini saya kuliah jam tujuh dan satu. karena ada jeda tiga jam, saya memutuskan untuk pulang. gila, bandung panas banget. ini sih ngga ada bedanya dengan rumbai. nyampe rumah, saya bener2 kepanasan, kering kerontang, mateng. kata mama, hari ini 32,5 sampe 35 C. sakit jiwa..
12.30 saya udah mau berangkat lagi, demi kuliah semiotika. sayangnya, sebelum saya sempat keluar rumah, mama ngasih ultimatum "harus potong rambut atua ngga usah pulang". sebenernya saya lebih suka mengambil pilihan kedua, tapi mendekati akhir bulan perekonomian saya udah defisit. dengan terpaksa saya mengumpulkan niat untuk potong rambut.
14.50 bandung lebih panas. setelah kuliah di ruang seminar yang sirkulasi udaranya ngga jauh beda dengan oven. saya jadi makin niat buat potong rambut. apalagi setelah saya jalan dari simpang dago ke mandiri deket cisitu yang jauhnya sekali ngesot udah bikin keringetan. panas, debu, berisik, macet, pokoknya bikin emosi. niat saya makin bulet buat potong rambut.
15.10 saya udah beres nyuci rambut di salon *beep* yang terletak di simpang sebelah pln. saya ngeliat keluar, terang banget dan panas, makin menguatkan niat saya untuk potong rambut. saya disuruh duduk di depan kaca lebar dan menunggu beberapa saat.
15.17 algojo saya dateng. cowok ini perpaduan antara oscar lawalata dan tata dado. intinya sih ngga banget. saya minta dipotong layer karena pada pemotongan rambut sebelumnya, saya memakai gaya ini dan yaa, saya suka sama potongan rambut saya waktu itu. sayangnya, tata dado jadi - jadian ini punya ide brilian untuk memotong rambut saya.. dengan.. ergh.. potongan rambut seperti dian sastro. masalahnya saya baru nyadar setelah rambut ini mau dblow.
bukannya saya menghina atau merendahkan cewek2 (dan cowok2) yang memotong rambutnya dengan potongan seperti ituh, karena cocok dengan bentuk muka mereka. lha saya?? yang bener aja! ini sih bulet kemana2.. rasanya saya pengen ngebunuh banci tadi. tapi sayangnya si mas (atau mbak) yang bertanggung jawab atas kecerdasannya yang diluar perkiraan saya itu udah menghilang. mau dikejer, rasanya saya bakalan kalah jumlah orang deh. walaupun pegawai disana cewek2 gemulai, sepertinya kalau saya ngejer banci sialan tadi, mereka bakal berubah jadi beringas dan ganas. jadilah saya keluar dari salon tadi dengan langkah lemas. saya ngacak2 rambut dengan harapan "dian sastro"nya bakal sedikit hilang, tapi hopeless. di depan saya ada cowok yang baru turun dari mobil, dan dia langsung ngeliatin saya dengan tatapan menuduh sayalah biang keladi dari pemandangan yang merusak keindahan kota bandung. aarghh..

a little box of magic and mystery

November 6th, 2006 by aninditadaisy

Saya terbiasa ngecek isi dompet sebelum keluar rumah. Crap, ternyata hari ini perekonomian berada dibawah garis kemiskinan. Jadi pemberhentian pertama saya adalah sebuah kotak kecil yang penuh dengan keajaiban dan misteri, ATM.
Menurut saya kotak ini cukup ajaib karena saat mengantri, semua orang berwajah lesu, cemas, tegang. Cuma mereka dan tuhan yang tahu apa yang sedang mereka pikirkan, haha! Kemudian, disinilah keajaibannya. Satu per satu masuk, saat keluar wajah mereka lebih cerah merona berbahagia tralala. Hebat yah.. tapi sayangnya, perubahan ekspresi ini tidak selalu terjadi setiap hari. Bagi mereka² yang ngekost, secara aneh dan mencengangkan perubahan ini tidak terjadi pada akhir bulan. Mereka cuma bilang, “belum dikirim” dengan tampang tetap lesu, cemas, tegang, tidak bergairah menghadapi kehidupan yang keras dan dingin ini.
Kenapa saya bilang kotak kecil ini penuh misteri? Karena sampai sekarang masih ada pertanyaan yang bercokol dipikiran saya dan belum terjawab. Sebenernya orang² pada ngapain sih di dalem sana sampe segitu lamanya? Ngga tau apa, ada beberapa orang yang mengantri?? Atau saya melewatkan ritual² yang dilakukan oleh kebanyakan orang supaya duit yang keluar lebih banyak beberapa lembar dari pada yang seharusnya? Atau lagi menunggu konfirmasi after entering the launch codes for a intercontinental ballistic nuclear missile? Aneh..

Saya sempat nanya hal ini ke beberapa orang dan mereka ngasih beberapa alasan :
1. Bayar tagihan listrik, telfon, atau apapunlah

Masa sih mendadak semua orang bayar tagihan setiap kali saya mau ngambil duit??
2. Ngambil 25 juta
OH! Dan cuma saya yang ngambil 50 rebu??? Yang bener aja!
3. Transfer duit
ah, teteup ngga masuk akal.. masa 4 orang transfer duit dalam waktu yang bersamaan..
4. Ngadem
ACnya mati kok..
Jadi, sampai sekarang bagi saya, apa yang dilakukan oleh makhluk tuhan lainnya di dalam ATM masih sebuah misteri yang belum terpecahkan. Ada yang punya ide lainnya? Hawhaw..

a tale of someone not important

October 9th, 2006 by aninditadaisy

tangannya masih bergetar. air matanya masih terus mengalir. badannya mengguncang, menahan sakit hati. sms yang baru masuk bener2 mengecewakan. bagus, semua orang aja marah2. sebenarnya dia cuma ingin menceritakan permasalahan dari sudutnya, tapi sms yang masuk selalu marah. itu ngga direncanain.. mukul itu ngga direncanain.. kenapa harus marah.. iya, salah. tau kok salah.. tapi jangan marah. jangan marah.. kan bisa ngomong baik2. semua yang dia ketik, apapun itu, selalu dianggap marah. dia bingung, apalagi yang salah. mesti gimana lagi.

tangannya tetap bergetar. dia memeluk kakinya, seperti mencoba melindungi dirinya dari kekecewaan.

si, lo tuh sensi banget!
ya ampun, cuma gtu doang? dasar oon..
kenapa sih mukanya dilipet? ngga enak dilihat tau..
sepertinya memang kamu lagi sensi. atau dia lagi pms. saya ngga tau. tapi bukannya yang penting kalian udah baikan? atau lebih penting dia juga minta maaf sama kamu?
kenapa sih? kenapa sih? kelahi ya? lagi berantem ya? kok dia langsung pergi? keliatan banget tau si.. cerita dong, cerita! ada apa sih? ato kita makan bebek aja. bebek perdamaian! gimana? gimana? mau ngga?
wah, ngga tau gw si. cobain aja samperin orangnya..
sisi kenapa sih?

dia bingung. dia cerita ke orang2 terdekat yang nanya. tapi mereka semua cuma denger cerita dan langsung komentar. ngga ada yang bener2 perduli. ngga ada yang bener2 mau mendengarkan tanpa menghakiminya. mereka kira, dengan komentar singkat atau panjang, masalah selesai. tugas mereka sudah terpenuhi. dan mereka semua pergi.

tangannya masih bergetar. hp masih ditangannya. dia kira orang ini beda. dia kira orang ini bisa bener2 mendengar dan bener2 bisa ngerti. tapi malam itu, yang dia rasakan cuma sakit hati, kecewa, dan sedih. kenapa ngga bisa berhenti marah..

dia bukan tipe yang mudah deket dengan orang baru. tapi orang itu bener2 baik. dia itu tertutup, dan bukan orang yang baik. dia sadar dia bukan orang baik, jadi dia mencoba menutupi dengan senyum. memendam semuanya ke diri sendiri. memendam emosi. selalu memendam emosi. dan hari itu, emosinya memuncak saat orang itu pergi waktu ngeliat dia dari jauh. rasanya sakit. sedih. apa kesalahannya begitu besar sampai orang itu pergi begitu saja? emang masalahnya segitu besar? emosinya benar2 memuncak, semua rasa kecewa dan sedih benar2 memuncak, rasanya sesak, namun dia mencoba untuk menahan. tapi dia tidak selalu bisa menahan. dan dia mengeluarkan emosinya dengan satu2nya cara yang dia tau.

sial! kenapa sih?! dinding. kenapa langsung pergi?!? cuma gitu aja! cuma salah paham! salah paham!!! harusnya ngga sampe segitunyalah! maunya apa sih?? apa?? ngomong aja langsung, bukannya pergi! I am not a fucking mind reader!! meja. I can’t fix it unless you tell me!! pukul. kenapa harus langsung pergi?? pukul. kenapa harus langsung pergi? kenapa harus langsung pergi.. kenapa harus langsung pergi.. kenapa harus langsung pergi… kan bisa ngomong baik2.. kan belum denger penjelasannya.. kenapa lebih milih berantem.. tau ngga segimana sakitnya waktu langsung pergi.. sakit tau.. sakit banget.. sakit.. dan dia mulai menangis.

dan malam itu dia memutuskan untuk melepas ego, entah apa sebelumnya dia punya. dia meminta maaf. entah siapa yang salah. yang dia tau ini cuma salah paham. dia ngga ngerasa ada salah satu pihak yang salah. cuma salah paham. mood yang bertabrakan. tapi dia ngga mau terus kelahi. jadi dia minta maaf dan mencoba menjelaskan sebisanya.

orang itu cuma membalas singkat. emosinya naik lagi tapi dia coba tahan. dan orang itu mulai marah tentang pemukulan. dia masih coba tahan. dia jelaskan sebisanya. tapi orang itu tetap marah. dia tau dia salah. jadi dia coba untuk tetap tahan. dia tanya sesuatu ke orang itu. tapi orang itu masih menjawab dengan marah. ya udah, lupain aja.. dan dia mulai menangis. menangisi kesalahpahaman. ketidakmampuannya untuk mengontrol emosi. menangisi semua hal yang tidak bisa dia perbaiki. menangisi kekecewaannya. semua hal yang menyakiti hatinya. dan dia mulai menyerah. dia menangisi temannya yang pergi. dia merasakan letih yang mendalam. dia menyerah. dia tetap menangis. mukanya memerah, badannya terguncang, matanya membengkak, dia masih menangis. sampai malam lewat. pagi datang. orang2 mulai bangun. dia berhenti menangis. dan mencoba menenangkan diri. rasa sakit itu masih ada, tapi dia harus memakai topeng kembali. agar semua orang tenang. semua orang bahagia. dan dia mulai memendam emosinya. lagi.

foto.foto.foto

September 29th, 2006 by aninditadaisy

jumat, 29 september 2006 11:37. hape saya tiba2 bunyi. ada sms dari 081809303xxx, besok foto2 wira tresna di CC jam 8 pagi. hae?? terus terang saya bingung (emangnya masih jaman ya OSKM..), seneng (bakal ketemu cowok lucu bermata indah), kesel (mengganggu weekend saya), seneng lagi (ternyata masih ada yang inget untuk ngejarkom saya), sekali lagi bingung (itu tadi nomer siapa), dan juga kesel lagi (saya lagi kejar tayang bikin 3 keramik tapi jadi keganggu sama rencana foto tadi), dan sedikit kesel lagi (hape saya kena tanah liat buat ngebuka sms tadi)

sabtu, 30 september 2006 10:10 wah, saya telat dateng. tapi ngga ada rasa panik sedikitpun. saya udah yakin dengan sepenuh hati dan sepenuh jiwa kalo yang lain bakalan telat juga. dan ternyata bener, semuanya telat. eh, ralat, semuanya ngga dateng. what, what, what?!?! nyebelin banget, saya udah bela2in ngga tidur abis sahur takut telat dateng, udah bela2in mandi pagi biar tampak lucu imut dan menggemaskan, ternyata yang lainnya malah ngga dateng. dan yang lebih nyebelinnya lagi, kordiv yang mengusulkan acara foto2 ini malah telat dateng. taplok yang dateng cuma 10 orang. SEPULUH ORANG!!! dari 136 kali dua tambah tiga orang taplok, yang dateng cuma sepuluh! aahh, tau gini mendingan ngga usah dateng aja..

eh, eh, tapih, tapih.. ada si cowok lucu bermata indah. saya ngeliat dia jalan dari plawid, dia juga telat dateng. dia pake jaket, rapih. saya seneng ngeliatinnya. and guess what, saya ngomong sama dia. akhirnya!! hwahaha.. setelah sekian lama cuma berani ngeliatin dari jauh, akhirnya saya berani ngomong sama dia. yaa, bukan ngobrol yang panjang dan lama, cuma ngomong ngga penting dan kadang2 dia mengkomentari pembicaraan saya, but it’s a start! dan karena kita cuma ber(kuranglebih)sepuluh orang, posisi duduk selalu deket sama dia. saya duduk di tangga atas dan dia di depan saya. akhirnya kita foto2 bentar pake kamera esa biar usaha ngumpul jadi berharga, dan berhubung saya duduk dibelakang, otomatis saya ngga keliatan. dan dia ngebalik badan dan nyuruh saya duduk di depan biar keliatan. hwahaha.. ngga penting banget.. tapi saya ngga pindah posisi da.. spotnya udah bagus ini.. bisa ngeliat dia dengan rapih dan ngga ketauan sama yang lain.

ah, ah, tapih, tapih.. setelah saya pikir2, saya berani ngomong sama dia karena saya udah ngga sesuka itu sama dia. waktu saya ngeliat dia jalan dari plawid, deg2annya ngga kayak dulu lagi, muka saya ngga tiba2 merah kalau ngeliat dia. ah, ngga seru.. ternyatah bener kata orang2, kalo ngga pake hati sih, ngomong pasti lancar jaya. mengecewakan.

how soon is now

September 26th, 2006 by aninditadaisy

I am the son and the heir
of a shyness that is criminally vulgar
I am the son and heir
of nothing in particular

you shut your mouth
how can you say
I go about things the wrong way
I am human and I need to be loved
just like everybody else does

there’s a club if you’d like to go you
could meet somebody who really loves you
so you go, and you stand on your own and
you leave on your own and you go home,
and you cry and you want to die

when you say it’s gonna happen "now"
when exactly do you mean?
see I’ve already waited too long and all my hope is gone

you shut your mouth
how can you say
I go about things the wrong way
I am human and I need to be loved
just like everybody else does

he’s just not that . .

September 21st, 2006 by aninditadaisy

beberapa minggu yang lalu, seorang temen dateng nanya agama sehari2 saya apaan karena dua temennya yang ngecengin saya tapi beda agama. jadi, saya kasih tau agama saya berdasarkan akte kelahiran, si temen tadi seneng dan bilang tunggu aja sms dari temennya tadih. hmh..

minggu berganti, si cowok yang digosipkan ngecengin saya cuma sms dua atau tiga kali. dan jarak antar sms itu beberapa hari. well, sekarang saya ceritain, anda langsung ngambil kesimpulan "saya kegeeran dan si cowok cuma iseng". tapi bukan itu yang pengen saya ceritain sih.

dalam salah satu hari di minggu berganti tadi, saya nemu buku bagus. he’s just not that into you by greg behrendt and liz tuccilo. bagi makhluk tuhan yang rajin nonton metro setiap rabu sampai minggu jam 10 pagi pasti tau penulis lucu tadi karena pernah dibahas di salah satu episode.

well, anyway, seperti yang pernah saya bilang, saya itu perfeksionis dalam hal2 ngga penting. dalam hal baca, saya bakal baca satu buku dari cover depan, kata pengantar, daftar isi, iklan2nya, sampai cover belakang. ngga ada yang kelewat (note : apa ini juga salah satu penyakit?) waktu saya baca daftar isi, bab I cukup menohok saya. he’s just not that into you if he’s not asking you out. cukup jelas. sangat jelas. crystal clear. bab II lebih tajam lagi, he’s just not that into you if he’s not calling you. jleb. atau mau yang bab III? he’s just not that into you if he’s not dating you. juara.

in a nut shell, buku tadi saya rekomendasikan for ladies who’s getting mixed messages, for example, oh say, dia suka tapi pemalu saking pemalunya sampe ngga ngapa2in? atau dia suka banget sama kamu tapi tiba2 hilang gtu aja (oops..) dan saya nulis rekomendasi buku diblog saya karena basically, it’s mine and I can do whatever I want. yehehe.. ngga deng.. menurut statistik, orang2 yang ngisi comments di blog saya itu cewek, jadi saya mengasumsikan yang baca blog saya itu cewek. dan biasanya cewek membuat alasan2 untuk mencover mixed message tadi. ah, pokoknya baca aja deh. amat sangat membantu sekali banget. oukay? just read the damn book.

PS : paragraf satu dan dua tidak bermaksud menyinggung salah satu atau dua pihak. kebetulan aja timelinenya pas buat jadi narasi x) peace . .

not in the mood

September 4th, 2006 by aninditadaisy

pagi ini, aku bangun dengan sedikit kesakitan. ternyata mata kiri bengkak dan merah, kalo si bengkak tadi dipencet, keluar air. sakit. hmh, ya sudahlah. waktu mau sarapan, ternyata dapet salah satu organ hewan, yuck. jadi cuma makan nasinya aja (note : bagi yang belum tau, aku milih makanan berdasarkan bentuknya, bukan rasa seperti orang kebanyakan. sepertinya ini adalah sebuah penyakit baru) dan entah bagaimana caranya, kelingking aku ketusuk kayu dan kayunya betah di dalem jari. ergh. ngambil minuman di kulkas, ternyata susu. argh. saya kan intoleransi laktosa. setelah sederetan peristiwa yang menyebalkan tadi, jadi males kuliah, males bikin keramik, dan males ngapa2in. lebih tepatnya muak.

jadi, kenapa aku malah ngga males (atau muak) nulis dblog? tentu saja untuk menyebarluaskan rasa muak tadi ke semua orang yang baca, hehe..

second chance

September 4th, 2006 by aninditadaisy

tadi saya ketemu dengan "temen" lama. seharusnya saya seneng ketemu dia, karena dia bisa bikin orang lain nyaman deket dia. ngobrol sama dia bisa seharian tanpa putus. dan memang seharusnya saya seneng ketemu dia, karena saya uda lama ngga ketemu dan ngobrol dan melakukan hal - hal bodoh dan aneh bareng dia, tanpa saya harus takut dicap aneh dan rese sama dia walaupun dia melakukan hal - hal bodoh yang sama dengan saya. beneran, seharusnya saya seneng ketemu dia.
dia nyuruh saya duduk disebelah dia. okeh, ngga ada masalah. tapi, dia langsung ngingetin (entah sadar atau ngga, entah lagi becanda atau emang dendam sama saya) segimana brengseknya saya dulu. waktu itu saya ngga siap, lagi kesel karena keramik saya gagal, laper (tadi itu sekitar jam 12an siang), dan saya yang belum segitu dewasanya menghadapi komentar negatif secara langsung. jadi saya langsung pergi ninggalin dia gtu aja. ngga pake pamit atau sejenisnya.
saya sedikit sakit hati dia ngingetin lagi kebrengsekan saya dulu, tapi ngga sampe marah ke dia sih, soalnya memang itu kesalahan2 yang saya lakukan dulu. saya ngaku kok, dulu emang saya brengsek. sumpah, dulu. sekarang saya udah tobat, at least I’m trying, walaupun saya ngga tau apa tobat saya udah diterima sama yang di atas ato saya harus menjalani penderitaan sampai delapan kali reinkarnasi dulu supaya ngerti segimana dalemnya saya uda nyakitin perasaan orang lain. saya serius tobat. walopun godaan untuk menjadi brengsek lagi itu sangat kuat, apalagi kalau si calon korban itu orang yang sama brengseknya dengan saya. tapi sampai sekarang saya masih bisa menahan diri kok.
tapi, ketemu dengan "temen" lama tadi, bikin saya mikir2 lagi untuk meneruskan pertobatan saya ini. saya emang pernah melakukan kesalahan, saya tobat. apa saya ngga berhak dapet kesempatan kedua? kalo emang ngga berhak, apa perlu pertobatan saya jalani terus? kalo tobat saya ngga bikin pikiran orang lain terhadap saya berubah sedikitpun, apa ada gunanya saya tobat? kalo jawabannya untuk mencegah korban2 selanjutnya, komentar saya, apakah anda mau hancur berkeping2 hanya karena seorang saya?
saya rasa semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. tapi sepertinya orang lain ngga berpikiran seperti ituh. cuma ngomong aja, iya setuju. tapi kalo dihadapin beneran, langsung mencap negatif seumur hidup.
saya setuju, itu resiko dari kebrengsekan saya tadi. okeh, saya terima. makanya -seperti yang tadi saya bilang- saya ngga marah ke "temen" lama tadi, kalo sakit hati sih wajarlah. saya kan masih manusia, walopun dulu -di jaman2 kebrengsekan saya- saya mengaku sebagai seperempat cewek, tiga per empat setan. tapi sekarang saya udah sepenuhnya mengaku sebagai manusia kok.
balik lagi. beneran, apa saya ngga bisa dapet kesempatan kedua? kalo bisa, kenapa si "temen" lama agresif ke saya? saya udah ngga brengsek ke orang lain kok. orang2 yang baru mengenal saya, ngga saya apa2in. beneran. kalo ngga percaya tanya aja sama orang2 yang baru saya temui. dan saya juga ngga ngaku2 atau berpura2 sebagai orang baik, kalau memang itu yang dikira si "temen" lama. baca profile saya. tanya haru atau echa atau adli atau siapapun yang kelompok diklat terpusat 24 dan ikutan mentoring bareng shana, disana saya ngga mengaku sebagai orang yang baik dan ramah. apa saya perlu bawa2 name tag kemana2 yang bertulis "bukan orang baik, jauh2"
saya manusia, bukan dewa atau tuhan. setan aja bikin kesalahan. berhubung si "temen" tadi juga manusia, apa dia ngga pernah bikin kesalahan atau merasa kesalahan yang dia pernah bikin ngga separah yang saya? apa untungnya buat dia untuk ngingetin lagi kebrengsekan saya. personal pleasure barang kali. ah, ketemu si "temen" bikin saya bete. apa mendingan saya berhenti bertobat dan balik lagi jadi orang brengsek ya?

I believe in second chances, that’s the reason I’m still here