24.03.07, 02:00 AM

Ha! Saya baru selesai nonton prison break episode 20 jam 2 pagi, satu cara yang baik untuk mengakhiri hari dan sehat untuk mengawali weekend. Pada episode terakhir setting berada di Panama. Waktu saya ngeliat laut biru pasir putih langit cerah, saya keinget sama satu tempat, dimana saya kenalan dan dekat sama orang – orang baru, membuat musuh, menciptakan kenangan – kenangan indah dan surreal, dan sekarang meninggalkan memar di tiga jari kanan saya.

Menurut Najib Kailani pada novelnya ‘Mempelai sang Dajjal’, kenangan adalah salah satu anugrah Tuhan kepada manusia yang sangat indah dan cerdas. Bayangkan, anda bisa bertahan dan berjuang berada dalam satu kondisi, satu penderitaan, doing what you believe was right, –yang mungkin ngga dimengerti oleh orang lain- dan mampu melakukan apapun yang anda kira anda ngga bisa lakukan, hanya dengan berpegangan pada satu kenangan. Oh yeah, satu lagi, dengan harapan, at the end of the tunnel, kenangan baru bisa diciptakan untuk memperindah kenangan lama dan / atau mengerase seluruh penderitaan dan pengorbanan yang telah anda lakukan.

Iya kalo sukses, iya kalo bisa bikin kenangan baru yang indah dan mempesona. Lha, kalo gagal? Rasanya pengen menghapus seluruh memori dan berharap itu sama sekali ngga pernah terjadi. Kurang lebih seperti film Eternal Sunshine of the Spotless Mind.

Sayangnya, pada kenyataannya, saya ngga punya kemampuan untuk menghapus kenangan seperti film itu. Harry lagi bikin program brainwash selama tiga hari untuk anak² PSIK (note : bagi peserta program yang penasaran sama acaranya, please contact me, I’ll tell you everything I know), tapi sayangnya, menurut saya, program harry kurang lebih sama seperti yang selalu saya lakukan kalau benar – benar emosi, jadi saya ngga bisa ikutan acaranya. Bedanya, brainwashnya berlangsung selama tiga hari, padat, penuh doktrin, dan sangat ekstrim, sedangkan saya udah cukup lama dan ngga seekstrim itu (ngga perlu adegan yang menyangkut ‘teriakan² yang kedengeran sampe tiga kilometer’ itu lho, haha..). But still, setelah melalui apapunlah yang saya lalui, rasanya pengen teriak ke semua orang, “UDAH PUAS BELOM?!?!?!”. Kepada seluruh pihak yang bersangkutan, saya pengen nanya, siapa tau merekalah orang - orang yang bisa menjawab pertanyaan saya, mengutip salah satu judul lagu mbak Nelly Furtado, why do all good things come to an end?

Saya ngga tau, apapunlah yang udah saya lakukan, lalui, dan rasakan, bakal ada artinya buat orang – orang, bakal dianggap penting, dihargai, atau apapunlah. So at least, saya tau apa yang udah saya lakukan dan korbanin –walaupun atas inisiatif sendiri- ngga sia – sia. Well, to be fair, saya juga mendapat hikmah, hikayat, dan hidayah dari kejadian sebelumnya, saya berubah dalam beberapa hal. Sebagai contoh, menurut sindhu, sekarang saya lebih sabar. Kalo dulu, misalnya kita janji ketemu dan dia telat dateng, saya bakalan marah – marah dan rusuhnya kayak ada yang ngajakin perang. Sedangkan sekarang, saya bisa nungguin orang berjam - jam. Sial.

Saya berubah karena beberapa hal, antara lainnya atas dasar kenangan. Which is a good thing. Belajar hal baru. Adaptasi. Bertahan. Semua berpegangan dengan beberapa kenangan. So, please don’t tell me it’s all worthless and useless.

Leave a Reply