Archive for December, 2006

How Can I Go On

Monday, December 25th, 2006

When all the salt is taken from the sea

I stand dethroned, I’m naked and I bleed
But when your finger points so savagely
Is anybody there to believe in me
To hear my plea and take care of me?

How can I go on, from day to day
Who can make me strong in every way
Where can I be safe, where can I belong
In this great big world of sadness

How can I forget those beautiful dreams that we shared
They’re lost and they’re nowhere to be found
How can I go on?

Sometimes I seem to tremble in the dark, I cannot see
When people frighten me
I try to hide myself so far from the crowd
Is anybody there to comfort me
Lord, take care of me

How can I go on
From day to day
Who can make me strong

In every way
Where can I be safe
Where can I belong
In this great big world of sadness

How can I forget
Those beautiful dreams that we shared
They’re lost and they’re nowhere to be found
How can I go on?

Freddie Mercury - How Can I Go On

Part II

Monday, December 25th, 2006

Satu iblis berjalan di bawah rintikan hujan

Siang ini dia merasa aneh

Kali ini dia merasa ringan

Entah karena dia telah memberikan hatinya kepada cahaya

Atau karena dia telah menemukan sebuah cara baru untuk menjalani hidup

Jangan pernah mengharapkan apapun terjadi

Apapun

Sang iblis merasa aman di antara garis hujan

Dia menunduk saat tetesan air menerpa kulitnya

Dan tiba – tiba dia tersadar

Dunia menjadi damai dan sepi

Dan ini karena tetesan hujan

Dia menengadah ke atas

Dia merasakan angin melewati sayapnya

Tetesan hujan yang sama pernah dia lewati dengan langit

Dia mengingat langit pernah menjadi tempatnya untuk terbang

Langit juga pernah menghempaskannya ke tanah dengan keras

Dia mengingat angin pernah membawanya terbang tinggi

Dan saat itu dia merasa sangat bahagia

Tapi dia tidak pernah siap dengan kenyataan

Angin juga meninggalkannya sendirian di malam yang sepi

Ada satu masa

Sang iblis tidak mau menatap langit

Meludahi angin yang mencoba memanggilnya

Karena hempasan itu masih terasa sampai saat ini

Hari ini hujan turun

Seluruh ingatannya bergulir kembali kepada langit dan angin

Part I

Monday, December 25th, 2006

Dia ada disana, di antara garis - garis matahari sore

Keanggunan senja merunduk saat menatap wajahnya

Terkurung selamanya di matanya

Satu iblis datang

Yang tidak memiliki perasaan

Pada dirinya atau pada orang lain

Satu iblis yang telah terbiasa dengan kesendirian dan kebekuan

Satu iblis datang dalam guguran daun dan semilir angin

Dan terdiam saat melihat keindahan cahaya

Dan hatinya tergetar saat langkah cahaya mendekat

Dia datang dalam damai

Tidak mengetahui apa yang telah dilakukannya pada hati sang iblis

Tidak menyadari

Dan tidak akan pernah tahu

Satu iblis yang tidak memiliki hati

Tidak pernah merasakan apapun saat melihat orang lain

Saat sang iblis mendengar langkah cahaya

Yang dia inginkan hanyalah menghangatkan cahaya

Entah timbul dari mana niat itu

Sebuah cahaya tidak perlu diberikan kehangatan,

Sang iblis berkata

Dan sebuah cahaya dapat menghangatkan dirinya sendiri

Dan sebuah cahaya tidak perlu kehangatan yang diberikan oleh seorang iblis

Yang bahkan tidak tahu bagaimana cara menghangatkan dirinya sendiri

Sang iblis hanya bisa tertawa

Menertawakan hal yang tidak mungkin terjadi

Dan tidak perlu terjadi

Cahaya masih menari – nari di hadapannya

Masih dalam seluruh kedamaiannya

Sang iblis hanya menatap cahaya dalam senyumnya

Cahaya, cahaya

Apa yang sebenarnya kamu cari

Senja telah merunduk di hadapanmu

Iblis telah menghangatkan hatinya untuk kehadiranmu

Kedamaian selalu berjalan mengelilingimu

Kenapa kamu masih berpaling

Sang iblis menghela nafasnya

Kepasrahan melepas bebas dari sana dan mulai membangunkan ruang hatinya

Sang iblis melihat hatinya

Apa yang ingin kamu katakan

Apakah saat ini kamu akan berkata, inilah saatnya

Untuk mengakhiri semua kebekuan

Untuk meruntuhkan dinding – dinding tinggi dan kokoh yang selama ini dijaga ketat

Atau akan menertawakan betapa menyedihkannya seorang iblis

Yang telah menaklukkan banyak orang

Yang telah menghempaskan semua yang mendekat

Tapi saat melihat cahaya

Hanya bisa duduk terdiam

Tanpa bisa melakukan apapun

Bahkan tidak mampu menghancurkan sebuah cahaya

Hatinya hanya tersenyum

Hatinya memanggil cahaya

Tapi cahaya tidak mendengar

Hatinya memanggil cahaya lebih keras

Tapi cahaya tidak mendengar

Hatinya berteriak memanggil cahaya

Tapi cahaya tidak mendengar

Hatinya mulai panik

Ia memukul cahaya

Menggigit, mencakar, berteriak di telinganya

Tapi cahaya tetap tidak mendengar

Hatinya mulai menangis

Hatinya menangis di hadapan cahaya

Berharap ia akan terlihat bagi cahaya

Tapi cahaya tetap tidak melihat apapun

Sang iblis hanya tertawa

Dan tetap melihat cahaya yang menari di hadapannya

Dan memanggil hatinya kembali

Apa yang kamu harapkan

Hal ini tidak pernah tercipta untuk kita

Kesendirianlah yang tercipta untuk kita

Sekeras apapun aku berteriak memanggilnya

Dia tidak akan melihat

Jadi apa gunanya

Hatinya hanya bisa menangis dan menatap cahaya

Hatinya mulai mengutuk cahaya karena tidak mendengar

Sang iblis kembali tertawa

Dan dia berkata pada hatinya

Cahaya tidak pernah tercipta untuk iblis

Maka dari itu aku hanya memandangnya dari jauh

Mungkin aku akan tetap tergetar saat mendengar langkahnya

Aku masih ingin memberikannya kehangatan

Aku akan rela jika dia memintaku menjadi cahayanya

Dan membuang sayap ini

Dan aku masih tidak tahu kenapa aku ingin melakukan hal itu

Tapi,

Dia harus melihatku dulu

Dia harus memintaku dulu

Dan sampai saat itu datang

Dinding ini tetap akan ada

Sayap ini akan tetap disini

Kebekuan ini akan tetap ada

Hatinya mendongak dan berkata,

Jika kamu tidak melakukan apapun

Bagaimana cahaya akan datang

Bagaimana cahaya akan mengetahuinya

Semua keinginanmu akan menjadi percuma

Bagaimana bisa kamu mengharapkan cahaya akan datang jika ia tidak mengetahuinya

Sama sekali tidak mengetahui

Dan kebekuanmu akan bertambah

Karena sakit yang kamu rasakan saat menunggunya

Dan bukankah cahaya tidak pernah tercipta untuk iblis

Sang iblis menatap cahaya yang menari – nari di hadapannya

Hanya menatap

Dan masih menatap

Tanpa bisa berkata apapun kepada cahaya

Saat itu

Sedikit demi sedikit

Kebekuannya bertambah

Hatinya mulai merasa sakit

Mulai merasa sakit sekali

Hatinya sakit

Sakit sekali

Sang iblis meletakkan hatinya dihadapan cahaya

Tapi cahaya tidak pernah tahu

Satu iblis pergi dalam guguran daun dan semilir angin

Dan terdiam saat melihat keindahan cahaya

Dan sang iblis berkata pelan kepada cahaya

Teruslah bersinar

Agar aku bisa menemukanmu lagi

Dan terkurung selamanya di matamu

Tapi cahaya tidak pernah mendengar

A Phone Call From A Long Lost Friend

Monday, December 25th, 2006

saya suka natal. suasana natal itu cerah meriah (dengan warna merah dan hijau yang rasanya udah jadi trade mark natal) dan semua film di tipi produksi barat, bukan punjabi (yang berarti kualitas pemain dan cerita (paling ngga) ngga mengecewakan dan ngga ngejiplak film korea lalu berlindung di balik alesan terinspirasi atau adaptasi. ha!) natal juga jadi semacam warning sign buat saya kalo dalam jangka waktu lima hari lagi, jatah hidup saya berkurang.

kemaren siang saya dapet telfon dari temen deket sejak smp yang udah lama ngga kontak karena dia sibuk sama kuliah (dan pacarnya). tiba2 dia nelfon saya karena lagi ngga ada kerjaan, saya berasa jadi cadangan gini.. anyway, sebagai teman yang baik tentu saja dia ingat bentar lagi saya ulang tahun.

"si, temen kita yang lainnya aja udah nikah, udah beranak, udah kerja, udah mau lulus, miniml udah punya pacar deh! ini masih jomblo aja! masa ngga berkembang sama sekali? trus ntar ulang tahunnya sendirian? pasti dirayain di rumah lagi! orang lain itu ya si, kalo ulang tahun dirayain di luar, dimanapunlah. ini masih sama orang tua aja" dan sebagai penutup omelan dia, saya diberi waktu lima hari untuk menyeret cowok dari jenis apapun untuk dibawa ke rumah dan dikenalin ke orang tua. seandainya segampang itu.

masalahnya tahun ini saya lagi ngga beruntung di bagian itu. sebagai bukti, si cowok lucu bermata indah (sampe sekarang) ngga nyadar saya ada. satu orang cowok yang menjadi kecengan umat ternyata udah punya pacar, dimana saya paling anti mengganggu rumah tangga orang lain. walaupun di lain pihak asya termasuk penganut setia sekte "selama janur kuning belum berdiri di ujung jalan, dia masih milik umum". dan sekarang ada si tetangga depan yang dari pertama kenalan sama dia sampe detik ini saya kecengin. nah, kalo dia main ke studio saya, yang pertama ditanya itu selalu temen saya.. yang juga cowok. damn. aarrrgghh, ada apa sih dengan dunia persilatan??

empat hari dari sekarang, saya udah bisa memprediksi segimana menyebalkannya pertanyaan yang sama diulang - ulang oleh orang yang berbeda di hari ulang tahun saya. jadi, saat ini saya tegaskan, udah deh, DON’T ASK!!!

masalah dirayain di rumah, emangnya ada apa? masa cuma karena ulang tahun saya mempunyai kewajiban untuk ngebayarin makan2 satu rt di luar. saya bisa bangkrut secara permanen dong. lagian sekarang kan liburan, saya mau ngundang siapa buat makan2 di rumah? undangan kan cuma valid dalam satu hari, hwahaha..

satu lagi, saya ngerayain ulang tahun dengan orang tua. menurut saya, setua apapun anda, sejauh mana anda udah pergi, di mata orang tua anda tetap anak ingusan yang belum lulus balita. cuma bedanya yaa, yang satu merengek - rengek minta mainan, yang satu lagi merengek - rengek minta dikawinin. sisanya sama kok. beneran deh.

selama saya masih dibiayain dan tinggal sama orang tua, might as well give them what they want. kalaupun saya udah check out dari rumah orang tua, bukan berarti secara otomatis saya punya hak (atau kewajiban?) untuk ngerayain ulang tahun di cafe atau marah - marah kalau mereka mulai memperlakukan saya seperti anak kecil. itu sih cuma ada di sinetron hidayah. kalau anda seperti itu, siap - siap aja meninggal dengan wajah yang telah mengalami deformasi dan kuburan yang secara misterius terbelah dua dengan rapi.

well, anyway.. kita liat aja dalam empat hari ke depan apakah tetangga depan secara mendadak mulai nanya - nanya tentang saya dan bukan temen saya yang cowok lagi. tapi tampak ngga mungkin. hmh.. oh well..