a tale of someone not important
tangannya masih bergetar. air matanya masih terus mengalir. badannya mengguncang, menahan sakit hati. sms yang baru masuk bener2 mengecewakan. bagus, semua orang aja marah2. sebenarnya dia cuma ingin menceritakan permasalahan dari sudutnya, tapi sms yang masuk selalu marah. itu ngga direncanain.. mukul itu ngga direncanain.. kenapa harus marah.. iya, salah. tau kok salah.. tapi jangan marah. jangan marah.. kan bisa ngomong baik2. semua yang dia ketik, apapun itu, selalu dianggap marah. dia bingung, apalagi yang salah. mesti gimana lagi.
tangannya tetap bergetar. dia memeluk kakinya, seperti mencoba melindungi dirinya dari kekecewaan.
si, lo tuh sensi banget!
ya ampun, cuma gtu doang? dasar oon..
kenapa sih mukanya dilipet? ngga enak dilihat tau..
sepertinya memang kamu lagi sensi. atau dia lagi pms. saya ngga tau. tapi bukannya yang penting kalian udah baikan? atau lebih penting dia juga minta maaf sama kamu?
kenapa sih? kenapa sih? kelahi ya? lagi berantem ya? kok dia langsung pergi? keliatan banget tau si.. cerita dong, cerita! ada apa sih? ato kita makan bebek aja. bebek perdamaian! gimana? gimana? mau ngga?
wah, ngga tau gw si. cobain aja samperin orangnya..
sisi kenapa sih?
dia bingung. dia cerita ke orang2 terdekat yang nanya. tapi mereka semua cuma denger cerita dan langsung komentar. ngga ada yang bener2 perduli. ngga ada yang bener2 mau mendengarkan tanpa menghakiminya. mereka kira, dengan komentar singkat atau panjang, masalah selesai. tugas mereka sudah terpenuhi. dan mereka semua pergi.
tangannya masih bergetar. hp masih ditangannya. dia kira orang ini beda. dia kira orang ini bisa bener2 mendengar dan bener2 bisa ngerti. tapi malam itu, yang dia rasakan cuma sakit hati, kecewa, dan sedih. kenapa ngga bisa berhenti marah..
dia bukan tipe yang mudah deket dengan orang baru. tapi orang itu bener2 baik. dia itu tertutup, dan bukan orang yang baik. dia sadar dia bukan orang baik, jadi dia mencoba menutupi dengan senyum. memendam semuanya ke diri sendiri. memendam emosi. selalu memendam emosi. dan hari itu, emosinya memuncak saat orang itu pergi waktu ngeliat dia dari jauh. rasanya sakit. sedih. apa kesalahannya begitu besar sampai orang itu pergi begitu saja? emang masalahnya segitu besar? emosinya benar2 memuncak, semua rasa kecewa dan sedih benar2 memuncak, rasanya sesak, namun dia mencoba untuk menahan. tapi dia tidak selalu bisa menahan. dan dia mengeluarkan emosinya dengan satu2nya cara yang dia tau.
sial! kenapa sih?! dinding. kenapa langsung pergi?!? cuma gitu aja! cuma salah paham! salah paham!!! harusnya ngga sampe segitunyalah! maunya apa sih?? apa?? ngomong aja langsung, bukannya pergi! I am not a fucking mind reader!! meja. I can’t fix it unless you tell me!! pukul. kenapa harus langsung pergi?? pukul. kenapa harus langsung pergi? kenapa harus langsung pergi.. kenapa harus langsung pergi.. kenapa harus langsung pergi… kan bisa ngomong baik2.. kan belum denger penjelasannya.. kenapa lebih milih berantem.. tau ngga segimana sakitnya waktu langsung pergi.. sakit tau.. sakit banget.. sakit.. dan dia mulai menangis.
dan malam itu dia memutuskan untuk melepas ego, entah apa sebelumnya dia punya. dia meminta maaf. entah siapa yang salah. yang dia tau ini cuma salah paham. dia ngga ngerasa ada salah satu pihak yang salah. cuma salah paham. mood yang bertabrakan. tapi dia ngga mau terus kelahi. jadi dia minta maaf dan mencoba menjelaskan sebisanya.
orang itu cuma membalas singkat. emosinya naik lagi tapi dia coba tahan. dan orang itu mulai marah tentang pemukulan. dia masih coba tahan. dia jelaskan sebisanya. tapi orang itu tetap marah. dia tau dia salah. jadi dia coba untuk tetap tahan. dia tanya sesuatu ke orang itu. tapi orang itu masih menjawab dengan marah. ya udah, lupain aja.. dan dia mulai menangis. menangisi kesalahpahaman. ketidakmampuannya untuk mengontrol emosi. menangisi semua hal yang tidak bisa dia perbaiki. menangisi kekecewaannya. semua hal yang menyakiti hatinya. dan dia mulai menyerah. dia menangisi temannya yang pergi. dia merasakan letih yang mendalam. dia menyerah. dia tetap menangis. mukanya memerah, badannya terguncang, matanya membengkak, dia masih menangis. sampai malam lewat. pagi datang. orang2 mulai bangun. dia berhenti menangis. dan mencoba menenangkan diri. rasa sakit itu masih ada, tapi dia harus memakai topeng kembali. agar semua orang tenang. semua orang bahagia. dan dia mulai memendam emosinya. lagi.
October 10th, 2006 at 1:18 am
psikopat cute=))